Kopel–ELSAM Bedah Kekuatan Aktivisme Digital Anak Muda

14 Maret 2026

The article in English is not yet available.

14 March 2026

Kopel Indonesia, Makassar - Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah partisipasi  politik warga negara secara signifikan, terutama di kalangan generasi muda.

Media sosial dan berbagai platform digital kini menjadi ruang utama bagi anak muda untuk mengekspresikan pandangan politik, menyebarkan informasi, sekaligus terlibat dalam berbagai isu publik. Fenomena ini sering disebut sebagai clicktivism—bentuk partisipasi yang cepat, mudah, namun sering diperdebatkan efektivitasnya dalam mendorong perubahan nyata. Fenomena tersebut secara lebih mendalam dibahas dalam Diskusi Publik KOPEL Indonesia dan Elsam bertajuk “Clickltivisme Menilai kualitas partisipasi Anak Muda dalam Ketahanan Demokrasi Digital” pada 6 Maret 2026, di Hotel Claro Makassar. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan buka puasa bersama sebagai bagian dari upaya mempererat jejaring kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, penyelenggara pemilu, akademisi, dan komunitas anak muda.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki perhatian pada isu demokrasi, partisipasi publik, dan kebebasan sipil di ruang digital, yakni: Ketua Bawaslu Sulsel Mardiana Rusdi, Direktur KOPEL Indonesia Herman dan Ahmad Mustafa Fauzi dari ELSAM. 

Ketua Bawaslu Sulsel, Mardiana memaparkan perspektif pengawasan pemilu di era digital, termasuk bagaimana ruang media sosial kini menjadi arena baru dalam kontestasi politik sekaligus potensi pelanggaran pemilu.

“Anak muda ini berkontribusi dalam pemilihan, periode ini anak muda mengambil posisi strategis, anak muda ini punya warna lebih baik daripada sebelumnya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur KOPEL Indonesia Herman, menyoroti bagaimana generasi muda memanfaatkan ruang digital sebagai sarana partisipasi politik, serta tantangan agar aktivisme digital tidak berhenti pada sekadar ekspresi di media sosial, tetapi mampu bertransformasi menjadi gerakan sosial yang berdampak.

Adapun Fauzi dari ELSAM akan membahas aspek kebebasan sipil di ruang digital, termasuk pentingnya menjaga ekosistem internet yang demokratis agar partisipasi warga—terutama anak muda—tidak terhambat oleh pembatasan yang berlebihan.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif ELSAM, Desiana Samosir, mengajak untuk beranjak dan mengikuti perkembangan teknologi digital. Teknologi ini terus berkembang, termasuk dalam aspek Pilkada dan Pemilu.

“Pemilih terbesar itu adalah anak muda, lebih 60 persen dan menjadi pemilih terbesar juga pada pemilu 2029. Kini sudah ada pergeseran, biasanya diskusi di kampus-kampus, ruangan-ruangan, sekarang bergerak ke ruang digital,” jelas Desi. 

Ia juga mengakui kritik-kritik anak muda sekarang disampaikan dalam bentuk digital. “Apakah pemerintah mendengarkan ruang kritis di ruang-ruang digital, konon anak muda menentukan viralnya di digital. Belum tentu suara digital kadang tidak diperhatikan,” akunya.

Diskusi publik ini diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus pertukaran gagasan mengenai bagaimana aktivisme digital dapat memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika politik yang semakin digital, keterlibatan kritis generasi muda menjadi kunci untuk menjaga demokrasi tetap sehat, inklusif, dan partisipatif.