by: Herman Kajang
Namanya Ahmad Firman—guru SDN 156 Kalukubodoa, Bonto Bahari, Bulukumba. Orangnya sederhana: tiap hari bangun pagi, mengajar anak-anak, berusaha menjaga sekolah tetap berdiri meski plafonnya sudah punya hobi jatuh bebas. Namun, rupanya dunia pendidikan kita punya standar yang aneh: lebih mudah menjatuhkan guru daripada membetulkan atap sekolah.
Di kampung, video yang diunggah Firman itu sempat disebut warganet sebagai “video dokumenter paling jujur tahun ini.” Isinya cuma satu: atap plafon yang ambruk, seperti sedang mogok karena bosan dipaksa menopang sistem pendidikan yang rapuh. Tapi entah bagaimana, video polos itu dianggap kejahatan besar. Mungkin karena plafon itu jatuh tanpa izin dari pihak berwenang.
Firman pun dipanggil. Bukan untuk diucapkan terima kasih, bukan untuk diberikan penghargaan atau apresiasi. Oh tidak. Dia malah dibina, disuruh membuat surat permintaan maaf, dan difilmkan saat mengaku bersalah seperti tontonan mingguan dalam acara “Birokrasi Mencari Korban.”
Warganet geram. Katanya, “Guru itu ditekan.” Tentu saja ditekan. Karena kalau tidak ditekan, bagaimana caranya surat permintaan maaf itu bisa keluar? Tekanan adalah alat resmi dalam manajemen reputasi: yang penting bukan keselamatan murid, tapi keselamatan citra instansi pemerintah.
Begitulah ironi negeri ini: jujur bisa jadi pelanggaran berat, sementara membiarkan sekolah rubuh dianggap bagian dari kurikulum tersembunyi bernama Pelajaran Kesabaran dan Ikhlas Menerima Kenyataan. Mungkin atap rusak itu dianggap bagian dari merdeka belajar—anak didik bebas menentukan apakah mau belajar ilmu pengetahuan atau ilmu menghindari reruntuhan.
Lebih tragis lagi, video permintaan maaf Firman beredar lebih cepat daripada perbaikan sekolahnya. Kamera direkam dengan stabil, tapi plafonnya tidak. Di sosial media, publik bertanya: siapa sebenarnya yang perlu minta maaf? Guru yang melapor, atau sistem yang sudah lama tidur siang padahal jam belajar masih berlangsung?
Tapi kita tahu jawabannya. Dalam budaya birokrasi kita, kebenaran itu seperti tamu tak diundang: begitu muncul, semua orang panik. Lalu terburu-buru mencari siapa yang pertama kali membuka pintu—dan guru malang itu akhirnya disalahkan karena dianggap membiarkan kebenaran masuk tanpa mengetuk.
Firman sebenarnya hanya ingin menunjukkan fakta. Namun rupanya fakta adalah musuh bebuyutan dari ketenangan pejabat. Yang boleh viral itu video peresmian, bukan video plafon sekolah yang jatuh seperti akhlak oknum tertentu. Yang boleh disebarkan ke publik adalah gambar pejabat memegang mic, bukan guru memegang HP untuk memotret kenyataan.
Dan yang paling lucu dari semuanya: keberanian Firman akhirnya membuka fakta yang lebih menakutkan dari plafon ambruk—yaitu ketakutan pejabat terhadap kejujuran stafnya sendiri. Sepertinya, dalam SOP versi tak tertulis mereka, ada aturan begini:
“Jika gedung hancur, tenang saja—yang penting citra pejabat tetap kokoh.”
Jadi, seperti biasa, kasus ini berakhir klasik: guru ditegur, publik marah, pejabat diam, dan plafon sekolah masih tetap miring menunggu giliran ambruk berikutnya. Dan Firman? Dia kini punya pengalaman berharga: menjadi contoh hidup bahwa di negeri ini, mengajar itu pekerjaan mulia, tapi mengatakan yang benar bisa membuatmu disuruh berakting dalam video klarifikasi.
Kalau nanti ada lomba Guru Paling Jujur dan Paling Tekan, Firman mungkin menang. Tapi kalau ada lomba Plafon Paling Rapuh, sekolahnya pasti juara bertahan.
Demikian catatan saya untuk Bupati Bulukumba dan aparatnya. Semoga kali ini yang jatuh bukan lagi plafon sekolah—tetapi kebiasaan buruk menekan orang yang jujur.
https://www.facebook.com/herman.kajang.3